Semua Produk

JUST a housewife

Sering ngga denger orang bilang “Ya saya kan CUMA Ibu Rumah Tangga” atau bahkan kita sendiri sering mengeluarkan ucapan itu? Mamak mau sedikit cerita. Cerita awal mula jadi ibu. Sebelum nikah, mamak adalah orang yang sangat aktif. Dalam hal apapun apalagi yang namanya hal makanan, aktif sekali. Hahaha. Mamak ngga bias diam. Kerja di salah satu perusahaan swasta. Hingga akhirnya menikah dan tetap bekerja. Saat tau hamil, mamak masih berniat untuk tetap bekerja. Bahkan sampai lahiranpun, 3 bulan setelahnya mamak kembali ngantor. Namun apalah day, mamak terlalu mandiri mungkin ya. Ngga pernah kepikiran kalau udah 3 bulan amamk masuk kerja bayinya ama siapa? Yang jagain siapa. Berhubung kami tidak tinggal bersama orangtua. Ditambah juga orangtua mamak maupun bukan tipe kakek nenek yang ngerti jaga bayi baru lahir. Akhirnya setelah penuh perhitungan dan pemikiran yang ribet, mamak memutuskan untuk resign. Maka, disaat si bayik umur 4 bulanan, mamakpun sah menjadi IRT. Sebulan pertama mah gile happy banget ya. Bisa bangun pagi. Bisa tidur seharian. Bisa hibernasi berasa bayi baru lahir juga. Secara ya, biasanya mamak harus berangkat dari rumah jam 5;30 dari Jakarta Timur tercinta untuk menuju kantor di Wijaya. Membelah ibukota banget kan? Terus pulang kantor, setenggo-tenggonya nyampe rumah tante jemput si bayik jam 19;00 basa basi kemudian pulang sampe rumah jam 21:00 PALING CEPAT. Lemes ngga tsay bacanya?? Ngebayanginnya aja sekarang mamak lemas. Setelah si bayik lewat 6 bulan ASI Ekslusif, tibalah di masa-masa yang katanya mulai banyak drama; MPASI. Nah disini mulai tuh ada rasa-rasa lelah. Anak sih belum bisa banyak tingkah, tapi udah mulai masak-masakan. Belum lagi drama kalau anaknya ngga mau makan, dsb.

Jujur mamak ngga pake mbak2an. Soalnya tiggalnya belum napak bumi alias di Apartemen yang kalau menurutku sih lebih layak disebut rumah Susun. So yes, semua mamak kerjain sendiri. Setiap bapake pulang kerjapun, mamak ngurus anake sendiri. Ngga pernah nyuruh bapake uat gantiin pampers atau apalah2. Karena mamake selalu mikir, bapake udah cape kerja di kantor, kasian kalau harus disuruh ini itu lagi. Sampai disaat anake kira-kira umur 10 bulanan rasanya mamake mulai merasa semi stress. Kecapekan. Mumet. Dan kadang jadi galak. Takut berakhir di RSJ, mamake konsultasi ke psikolog (plis jangan langsung judge gw sakit jiwa). Masukan dari psikolog itu sangat amat mamak inget ampe sekarang.
“ Kamu punya anak itu berdua. Buatnya dulu berdua kan? Ya ngurusnya juga harus berdua. Bukan berarti kalau seorang suami bekerja lantas dia ngga punya tanggung jawab ngurus anak. Dia juga harus ngurus. Bekerja dan ngurus anak itu kewaiban seorang suami juga, bukan hanya pilihan.”

Sebagai seorang suami, memang sudah kewajiban suami memenuhi kebutuhan anak dan istri. Dan sebagai seorang bapak, suami berkewajiban untuk mengurus anaknya juga. Sama halnya dengan seorang istri berkewajiban mengurus rumah, rumah tangga, anak dan melayani suaminya. Mungkin ada wanita-wanita diluar sana yang juga pernah berpikiran seperti mamak. Bahwasanya suami udah kerja jadi yang lainnya kita yang ngurus. Mulai sekarang cobalah untuk berbagi urusan anak dengan pasangan. KArena dari waktu itu juga akan terjadi bonding antara ayah dan anak. Karena sering terjadi di keluarga anak hanya dekat dengan ibu dan kepada ayah itu seolah sosok yang “ditakuti” bukan “disegani”.

Kemudian mamak jadi berfikir. Apakah kita IRT HANYALAH seorang Ibu Rumah Tangga? NO. BIG NO. Bagiku kita bukan sebuah HANYA. Kita ADALAH seoran Ibu Rumah Tangga. Ibu yang mengurus ini itu semua tanpa Job Desc. Yang kerja tanpa jam kerja. Yang mengerjakan semua dalam keseharian dirumah bukan karena iming-iming gaji bulanan. Kita adalah Ibu yang harus memastikan anak tumbuh kembangnya baik. Tercukupi semua kebutuhannya. Sebagai teman anak (kadang jadi anak umur setaun, dua tahun, tiga tahun dan terus sesuai umur anak). Sebagai dokter. Sebagai koki. Sebagai sebagai yang lainnya. Tapi disisi lain rumah harus beres. Suami harus diurus dan sebagainya. Buat kalian para sahabat-sahabat mamak ibu-ibu Rumah tangga, be proud. Karna ngga semua orang bisa seperti kalian.

Note: Tulisan ini tidak memperbandingkan antara Ibu Rumah Tangga dan Ibu Pekerja. Saya tidak pernah menjelekan salahnsatu pihak. KArena saya sendiri SANGAT SALUT terhadap para ibu pekerja yang bebannya juga ngga kalah berat dari IRT. SAya hanya menulis dari sudut pandang saya sebagai salah satu IRT dimuka bumi ini. J Be a smart reader.

Umak-umak.

-MD-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *