Semua Produk

Neng Koala, inspirasi dan pemberi semangat.

You may know me, Grace Nathalie, emak-emak batak dasteran ibu anak 1 yang lagi hebring-hebringnya. Kegiatan hariannya ngga lepas dari masak, ngurus anak, suami, rumah, jualan makanan, jastip-jastip.Bisa kebayang rempongnya?πŸ˜‚

Pada awalnya tidak pernah membayangkan melanjutkan sekolah lagi. Apalagi keluar negeri. Secara saya perempuan, ibu dari seorang batita. Sudah pasti tidak mungkin ada “sekolah lagi” dalam jaoan hidup saya kedepannya.

Sampai, pada tanggal 25 April 2018 saya mendapatkan kesempatan dari Blogger Crony untuk menghadiri Launching buku : Neng Koala : Kisah-kisah Mahasiswi Indonesia di Australia. Jujur awalnya kirain, yaudahlah buku. Gitu aja. Tapi, begitu mendengar cerita dari Mba Melati Cs, jujur saya antusias banget. Rasanya seru banget ya kehidupannya disana. Semangat perjuangannya tinggi untuk menyelesainkan kewajibannya. Fun banget ngejalanin hari-harinya. Jadi ngga ngerasa sia-sia deh ngadirin acara yang diadakan di Binus kampus Anggrek. Bayangkan perjalanan yang kutempuh dari Jakarta Timur, nganter anak ke mamaku di daerah kemang kemudian meluncur menuju Jakarta Barat. Untung materinya seru. Dan dapet banyak ilmu.

Kenapa Neng Koala?

Itu juga pertanyaan yang timbul saat mengetahui tentang Neng Koala ini. Yang pertama saya pikirkan adalah Neng-neng yang mirip koala atau suka koala. Untungnya pertanyaan ini sempat dilontarkan oleh salah satu partisipan acara dan dijawal langsung oleh Mba Melati founder Neng Koala. Koala, dikarenakan Australia memang identik dengan Koala. Memang sih lebiih sering disebut negara Kangguru, sepertinya penggunaan kangguru ini sudah terlalu banyak, akhirnya diputuskan si Koala yang kali ini naik pamor..😁 Kenapa Neng? Karena itu yang paling cocok dibandingkan panggilan-panggilan ke-cewek-cewekan lainnya. Maka jadilah Neng Koala, as simple as that.😁

Asal muasal Neng Koala.

Kenapa bisa ada neng koala? Mba Mel sempat bercerita awal mula munculnya ide melahirkan Neng Koala. Dimulai dari salah satu teman mba Mel yang awalnya hunting beasiswa keluar negeri. Kemudian mendapatkan kesempatan menerima 2 (dua) beasiswa sekaligus, di German dan di Australia. Namun sayangnya, pada akhirnya beliau harus melepaskan kedua tiket belajar itu dikarenakan tidak mendapat dukungan dari orang terdekat seperti keluarga dan pasangannya saat itu. Mungkin teman Mba Mel otomatis merasa drop ya.. Mendengar kisah itu, Mba Mel terpikir untuk membuat sebuah blog berisi kisah-kisah mahasiswi yang sedang kuliah di Australia. Agar bisa menjadi penyemangat juga bagi orang-orang yang mungkin ingin kuliah lagi, tapi udah pesimis duluan kaya saya.πŸ˜‚πŸ˜‚

Inspirasi

Jujur setelah menghadiri acara ini, belum baca bukunya, saya merasa punya keinginan untuk sekolah lagi. They tell the story like it was that fun. Padahal mereka ngga cerita muluk-muluk indahnya aja lho ya. Yang asem-asem juga diceritain. Yang paling buat saya salut adalah kisah mba Cucu Saidah. Mba Cucu merupakan Universitas Flinders, Aktivis hak penyandang disabilitas di Indonesia. Kata-kata yang paling saya ingat dikatakan mba Cucu adalah “Bagi seorang perempuan ditambah disabilitas, diskriminasinya sangat tinggi.Dimanapun berada.” Tapi yang membuat super salut berlipat ganda adalah, mba Cucu dan suaminya yang sama-sama menggunakan kursi roda tidak menjadi membatasi kegiatannya, mereka bahkan sempat melalakukan perjalanan keliling Australia berdua saja. Semangatnya patut ditiru. Banyak masukan yang disampaikan sepanjang acara. Intinya semangat, optimis, managemen waktu dan turunkan ego. Sedikit tentang menurunkan ego. Menurut saya, memang bagi kita-kita ini kadang susah untuk menjalankannya. Secara, sering kali kita tidak sadar mengkotak-kotakan orang. Dari latar belakangnya, dari pekerjaannya, dari asal muasalnya dll. Hal yang saya perhatikan dari orang-orang yang sudah menjalani kehidupan diluar negeri, orang dapat lebih realistis dan tidak menjaga image yang sebenernya ngga dimilikinya. Misalkan, sebenernya penghasilan pas-pasan tapi maksa mengikuti arus nongrong ditempat hits. Beberapa orang juga gengsi untuk melakukan pekerjaan tertentu karena dianggap kurang kece. Sementara diluar negeri, orang- orang tidak malu untuk mengambil beberapa pekerjaan sampingan seperti bekerja di restauran, menjaga orang jompo berkebun dan beberapa pekerjaan lainnya yang mungkin sering kita anggap sepele. Itu hal mendasar yang kalau dari pandangan saya, hal utama persiapan untuk belajar keluar negeri. Walaupun managemen waktu juga sangat diperlukan, apalagi bagi mahasiswi yang membawa serta keluarganya. Karena tanggung jawabnya bukan hanya belajar tetapi harus seimbang juga untuk keluarga.

Begitu pulang dan melepas rindu sama si bayik Maxima Eliora mamak ngga sabar buat baca si buku pinky gemash ini. Begitu mulai mrmbaca buku ini, jujur, susah untuk berhenti. Buku ini membawa saya ke Australia. Buku ini membuat saya berasa jadi salah satu mahasiswi yang sedang menjalani persiapan serta masa belajar disana. Buku ini dibagi jadi 7 bagian. Dimulai dari masa-masa Berburu beasiswa yang berisi tentang perjuangan-perjuangan saat awal mencari beasiswa. Ada yang langsung dapet, ada yang berulang kali, ada yang suaminha malah dapet duluan. Dibagian ini juga banyak diberikan masukan-masukan tentang faktor-faktor menjawab wawancara untuk penerimaan beasiswa. Kemudian Kisah-kisah keluarga yang berisi pengalaman-pengalaman selama menjalani kuliah di Australia. Ada yang berangkat sendiri, ada yang membawa keluarga, ada juga yang berangkat dengan berpisah sementara dengan keluarganya. Dari bagian ini, yang paling mengenyuhkan hati saya sampai menitikan air mata adalah kisah mba Nadia Sarah. Mba Nadia yang sejak kecil bercita-cita sekolah di luar negeri. Kemudian setelah berkeluarga dan memiliki anak sempat tertunda melanjutkan cita-citanya. Namun setelah akhirmya mendapatkan lampu hijau dari sang suami, mba Nadia memulai mengejar cita-citanya lagi. Walaupun ada beberapa suara sumbang yang menyudutkannya, suaminya tetap mendukungnya bahkan menguatkannya. Setelah berangkat seorang diri tanpa anak dan suami mba Nadia masih harus mendapat cobaan berat, ditinggal ibundanya disaat menjalani masa kuliahnya. Hebat mba Nadia bisa menjadikan semua cobaan itu sebagai penyemangatnya untuk sukses menyelesaikan sekolahnya.😊 Dilanjutkan Kehidupan Kampus serta Keseharian di Australia. Lalu ada bagian Tips Praktis yang juga memuat Kamus Dapur oleh mba Suharti. Dijamin bisa masak disana. Segala kluwek juga ada terjemahannya..πŸ˜‚ Lalu ada juga bagian Pertukaran Pelajar Magang, Short Vourse dan Volunteering. Banyak info yang dibagikan. Hingga samapi dibagian Kembali ke Indonesia.

Satu lagi yang saya dari buku ini adalah buku ini ngga pelit info. Dari mulai info tempat makan, tempat belanja bahan masakan semua dibagiin. Bahkan mba Gena Lysistrata menjabarkan sangat lengkap dari bagian Persiapan Sebelum Apkikasi Beasiswa: komitmen dengan suami dan caregiver, IELTS preparation course, surat rekomendasi, disiplin, pelajari beasiswa yang kita kejar dan IKHLAS. Proses Seleksinya: Application Submission, Selection, tes IELTS dan wawancara JST sampai pengumuman seleksi.

Intinya, buku 254 halaman ini isinya lebih dari cukup untuk dapat memotifasi sseseorang untuk kuliah di Australia. Ngga ada yang mustahil kalau kita berusaha.

Sebenernya buku ini bisa untuk siapapun. Karma menurutku buku ini memberikan kita semangat. Bahkan yang ngerasa ngga kepikiran kuliah lagi jadi kepikiran.dDan jadi berfikiran “Aku masih bisa sekolah”.😊

Selamat membaca..

Umak umak..

-MD-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *